JT - Direktur Eksekutif Yayasan Indonesia CERAH Agung Budiono mengatakan Indonesia dapat memanfaatkan keanggotaannya di blok ekonomi Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS) untuk mendapatkan pendanaan transisi energi.
"BRICS barangkali bisa menjadi peluang untuk menutup gap (pendanaan) ini," ujar Agung ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.
Baca juga : BSI dan TNI AD Kolaborasi Tingkatkan Inklusi dan Literasi Perbankan Syariah
Pernyataan tersebut merespons keluarnya Amerika Serikat dari Perjanjian Paris (Paris Agreement), yang berdampak pada program pendanaan, seperti Just Energy Transition Partnership (JETP).
Program JETP bergantung pada dukungan negara-negara maju, yang mana AS dan Jepang adalah pemimpinnya.
Oleh karena itu, keluarnya AS dari Perjanjian Paris dapat berimplikasi pada penundaan atau pengurangan dana.
Baca juga : Menparekraf: World Water Forum Berpotensi Bawa Rp800 Miliar untuk Bali
Agung melihat terdapat peluang kepemimpinan China untuk menjadi green leader dalam mendukung transisi energi di Indonesia.
"Misalnya, dulu ada wacana Green Belt and Road Initiative, mungkin itu bisa benar-benar diseriusi dan dieksekusi," ucap Agung.
Bagikan