JT – Generasi Z semakin tertarik mengunjungi desa wisata karena menawarkan pengalaman lokal yang lebih autentik dan konsep pariwisata berkelanjutan.
Hal ini diungkapkan oleh pengamat pariwisata Universitas Andalas, Sari Lenggogeni, berdasarkan survei dari sebuah platform pemesanan hotel.
Baca juga : Satpam di Taman Wisata Candi Borobudur Pakai Seragam Khas Jawa
Menurut Sari, Gen Z ingin menjadi bagian dari budaya lokal dengan memilih penginapan tradisional, menggunakan transportasi lokal seperti sepeda, serta berpartisipasi dalam aktivitas keseharian masyarakat setempat.
Mereka juga menyukai desa wisata yang memiliki komunitas spesifik, seperti dapur atau ruang tamu komunal yang meningkatkan interaksi dan kebersamaan.
"Ini yang harus dibuat, atraksi-atraksi inovatif dengan tata kelola yang baik agar tetap menjaga kebersihan dan infrastruktur," ujar Sari saat dihubungi, Rabu (5/2).
Baca juga : Nataru, Tingkat Hunian Hotel di The Nusa Dua Capai 73 Persen
Selain itu, Gen Z juga cenderung memilih konsep slow living, yaitu menikmati perjalanan dalam ritme lambat untuk merasakan ketenangan. Wisatawan yang menerapkan slow living biasanya menetap selama tujuh hari atau lebih di satu tempat, berbeda dengan fast tourism yang hanya berlangsung tiga hingga empat hari.
Sari menegaskan bahwa tren ini seharusnya tidak mengabaikan nilai-nilai lokal yang ada di desa wisata. Prinsip tata ruang dan budaya, seperti yang diterapkan di Bali dan Toba, harus tetap dijaga agar pariwisata berkelanjutan dapat berjalan dengan baik.
Bagikan